PT. CHEMIGARD INDUSTRY

PT. Chemigard berawal dari sulitnya mendapatkan pestisida di Indonesia yang baik, efektif, ekonomis dan aman untuk lingkungan serta tidak bisa dilupakan bahwa Indonesia adalah kawasan yang terletak di Khatulistiwa sehingga sinar matahari dan curah hujan tinggi sekali. Spot dan curah hujan, merupakan faktor yang akan sangat mempengaruhi efektifitas dari pestisida.

Product

Chemigard mencoba mengembangkan pestisida yang cocok dengan alam Indonesia dan habitat dari hama pertanian maupun lingkungan yang akan dikendalikan.

Click Here

Bank Account

Pembayaran Cash Advance (T/T) melalui transfer

Click Here

How To Order

Untuk pembelian (order barang) atau permintaan penawaran harga produk-produk PT. Chemigard Industry

Click Here

Mengontrol Semut Api dan Nyamuk melalui Katak Racun

 semut-sedang-bekerja-sama

Pernahkah Anda bertanya-tanya di mana racun pada suku Indian kuno ‘racun panah datang dari? … Dan kau sekarang bertanya-tanya apa yang harus dilakukan dengan pengendalian hama?

Dahulu kala, suku-suku Amerindian menemukan bahwa mereka bisa menggunakan menerapkan toksin pada kulit katak beracun untuk membuat racun panah untuk berburu. Menariknya, katak tidak menghasilkan senyawa beracun, atau alkaloid, secara alami, namun melakukannya dengan memakan kaki seribu, semut, tungau, dan arthropoda lainnya yang melakukan menghasilkan alkaloid.

Salah satu semut adalah semut api tropis yang katak beracun makan untuk membuat racun untuk pertahanan mereka. Tapi sekarang bahwa “pertahanan” telah berbalik melawan sumbernya, dengan ilmuwan menemukan bahwa racun katak menghasilkan melalui semut api dapat berbalik melawan semut api itu sendiri untuk kontrol dan juga bisa mengendalikan nyamuk tertentu .

Mengontrol Semut Api Merah

Diperkenalkan ke AS dari Amerika Selatan pada 1930-an, semut api merah (Solenopsis invicta), telah menyebar ke seluruh negara-negara selatan dan menjadi semut ditakuti karena semut api yang berbisa dan menyakitkan menyengat pada manusia dan hewan , serta yang kemampuan untuk merusak tanaman dan mencatat populasi hewan kecil.

Karena itu, para ilmuwan terus-menerus mencari metode yang efektif untuk mengendalikan semut menyengat ini.

Salah satu ilmuwan adalah Robert Vander Meer, pemimpin penelitian di Unit Impor Semut Api dan Rumah Tangga Serangga di US Department of Agriculture (USDA) Agricultural Research Service, yang bermitra dengan peneliti lain untuk mempelajari apakah toksin dari kulit berwarna cerah racun katak akan menghalangi semut api.

Secara tradisional, warna pada racun katak yang diduga digunakan sebagai perlindungan terhadap mamalia dan burung, tetapi sejak itu telah ditemukan bahwa sekresi katak dapat bertahan melawan serangga agresif seperti semut api juga. Dan sekarang para ilmuwan telah menemukan cara untuk membuat mereka alat dalam kendali kita sendiri merah impor semut api – meskipun racun yang membunuh semut api tampaknya datang dari panah beracun katak (Oophaga pumilio) makan tungau.

Mengontrol Nyamuk

Penelitian lain yang menguji alkaloid racun-katak untuk pemusnahan nyamuk demam kuning telah menemukan bahwa ketika nyamuk mendarat di permukaan diobati dengan pumiliotoxin alkaloid 251D, mereka tidak dapat terbang, dan mereka mati.

Penemuan bahwa alkaloid racun-katak bertindak atas kontak untuk membunuh arthropoda, seperti semut api dan nyamuk , ini penting karena studi sebelumnya telah difokuskan pada suntikan toksin. Fakta bahwa hal itu dapat bertindak sebagai racun kontak, menembus permukaan serangga, membawa peluang baru untuk mengendalikan serangga menyengat. Hal ini juga sangat penting karena dapat membantu untuk memerangi penularan penyakit nyamuk, yang terus meningkat di seluruh dunia.

Sementara pumiliotoxin yang 251D sangat efektif, ada juga beberapa kekhawatiran karena toksisitas tinggi. Dengan demikian para ilmuwan terus mempelajari berbagai alkaloid dari katak racun untuk menemukan orang-orang yang mungkin memiliki nyamuk lebih besar dan api toksisitas semut dan kurang toksisitas mamalia

Informasi lebih lanjut tentang Katak Racun dan Pengendalian Hama

Penelitian ini merupakan bagian dari Kedokteran Hewan, Kedokteran, dan Perkotaan Entomologi, program nasional ARS (# 104) dijelaskan di www.nps.ars.usda.gov . Artikel lengkap, “Semut Api Apakah Tidak Cocok untuk Katak Poison” diterbitkan dalam November / Desember 2014 edisi majalah Penelitian Pertanian. Kolaborator Vander Meer pada penelitian ini meliputi insinyur Cliff Hoffman di Southern Plains Pusat Penelitian Pertanian ARS di College Station, Texas; ekologi kimia Paul Weldon di Smithsonian Conservation Biology Institute di kebun binatang tersebut di Front Royal, Virginia; dan ahli kimia Thomas F. Spande di National Institutes of Health (NIH) di Bethesda, Maryland. Penelitian tentang nyamuk dengan Weldon dengan ARS dan ilmuwan NIH diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.

FacebookTwitterGoogle+Share

Cara alami menghilangkan kutu rambut

kutu-rambut

Cara alami menghilangkan kutu rambut

mengisap darah manusia lewat kulit kepala. Meskipun kutu rambut tidak menimbulkan masalah kesehatan serius, keberadaannya bisa sangat mengganggu dan menjengkelkan karena menimbulkan gatal terus-menerus di kepala. Prestasi belajar anak pun dapat terancam karena sulit berkonsentrasi.kutu rambut
Kutu rambut sulit ditemukan karena warnanya sangat mirip dengan warna rambut dan ukurannya kecil. Kutu rambut jantan dewasa berukuran sekitar dua milimeter, sedangkan yang betina sedikit lebih besar karena memiliki rongga perut untuk telur-telurnya.

Gejala

Sering menggaruk kepala adalah tanda utama seseorang memiliki kutu rambut. Tapi untuk memastikan keberadaannya, yang paling praktis adalah menghamparkan handuk atau saputangan putih dan meletakkan kepala anak di atasnya, lalu menyisir rambut dengan sisir khusus untuk kutu rambut (serit). Di kampung-kampung orang biasa menyimpan sisir jenis ini, yang biasanya berbilah dua dan bergigi rapat dan kaku. Bila ada kutu rambut, maka kutu dan telur-telurnya yang berwarna putih akan berjatuhan atau menempel di sisir.

Penanganan Alami

Memangkas rambut. Bagi anak laki-laki yang memiliki masalah kutu rambut parah, cara termudah untuk menghilangkannya adalah memangkas rambut sampai plontos. Pencukuran sebaiknya dilakukan di rumah, bukan di tempat pangkas rambut untuk menghindari kemungkinan penularan ke orang lain.

Zat Pembasmi Alami.Meskipun kini sudah tersedia obat-obat kimia pembunuh kutu rambut, sebagian orang masih menyukai cara alami untuk membasminya. Selain tidak selalu efektif, obat kimia bagaimana pun dapat memiliki efek samping bagi tubuh (baca baik-baik aturan pakainya bila Anda menggunakannya). Berikut adalah beberapa bahan alami yang mudah didapat dan efektif menghilangkan kutu rambut:

Minyak kayu putih dan jeruk nipis. Campur beberapa sendok minyak kayu putih dengan air perasan jeruk nipis. Gunakan campuran tersebut untuk membasahi rambut, dan pijatlah kulit kepala dan remas-remaslah rambut dengan merata selama beberapa menit. Tutuplah kulit kepala dengan topi mandi plastik dan biarkan cairan bekerja selama satu jam. Kemudian, keramaslah rambut sampai bersih. Sisir rambut dengan sisir khusus untuk membersihkan telur-telur kutu yang masih melekat. Ulangi beberapa kali dalam seminggu sampai anak Anda benar-benar bebas kutu.

Minyak kelapa. Minyak kelapa (Jawa: minyak klentik) dapat memasuki saluran pernafasan kutu dan membunuh mereka dengan membuat lemas dan dehidrasi. Sewaktu anak mau tidur, tuangkan minyak kelapa hangat di kepalanya dan remaslah rambut seperti berkeramas. Bungkus kepala dengan topi mandi plastik dan tidurkan anak. Di pagi hari, basuh kepala anak untuk membersihkan minyak. Sisir rambut dengan sisir khusus untuk membersihkan telur-telur kutu yang masih melekat. Lakukan tiga malam berturut-turut. Periksa kembali rambut anak dan ulangi hanya jika diperlukan.

Cuka Putih. Cuka putih tidak membunuh kutu, namun efektif membuat telur-telur kutu mudah lepas dari cengkeramannya di rambut. Selain itu, cuka juga bersifat antiseptik sehingga bisa membersihkan jamur dan bakteri di kepala. Basahi kepala dan kulit kepala anak dengan air cuka. Tutup kepala dengan topi mandi plastik selama 30 menit agar cuka meresap dan bekerja. Sisirlah rambut dengan sisir khusus untuk mengeluarkan kutu dan telur-telurnya. Telur-telur yang sebelumnya sangat lengket di rambut akan dengan mudah berlolosan. Kemudian, keramaslah rambut sampai bersih. Ulangi beberapa kali sampai anak Anda bebas kutu rambut.
Pencegahan

Pencegahan adalah terapi yang paling efektif dan murah.

Setelah menyadari anak Anda memiliki kutu rambut, periksa anggota keluarga lainnya dan pastikan tidak ada satu pun anggota keluarga lain yang juga bermasalah kutu rambut. Lakukan penanganan yang sama bila ada anggota keluarga yang terkena.
Usahakan untuk tidak berbagi peralatan yang dapat menjadi sumber penularan kutu seperti sisir, topi, handuk, bantal, dll.
Jangan menggantung handuk, topi, jilbab dan lain-lain di tempat gantungan yang sama sehingga kutu rambut bisa melompat dari satu barang ke barang lain.

Untuk sementara sampai anak dipastikan bebas kutu, pisahkan tempat tidurnya. Kutu dapat melompat dari kepala anak yang satu ke yang lain sewaktu mereka tidur dengan kepala berdekatan.
image: source

Ekologi Tikus Sawah Teknologi Pengendaliannya

tikus-koloni

Ekologi Tikus Sawah Teknologi Pengendaliannya

Tikus sawah (Rattus argentiventer Rob dan Kloss) merupakan hama utama tanaman padi dari golongan mamalia (binatang menyusui), yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda dibandingkan jenis hama utama padi lainnya. Oleh karena itu dalam pengendalian hama tikus ini, diperlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan cara penanganan hama padi dari kelompok serangga.

Tikus sawah dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi mulai dari saat pesemaian padi hingga padi siap dipanen, dan bahkan menyerang padi di dalam gudang penyimpanan. Kerusakan akibat tikus sawah di negara-negara Asia mencapai 10–15% setiap tahun (Singleton, 2003), dan di Indonesia luas serangan tikus sawah setiap tahun rata-rata mencapai lebih dari 100.000 ha (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 2003). Kerugian akibat hama tikus dapat jauh lebih tinggi lagi karena kerusakan pada periode pesemaian dan stadium padi vegetatif tidak termasuk kerugian yang dilaporkan.

Distribusi keberadaan tikus sawah sangat luas, karena dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai agroekosistem, baik lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan/lahan kering, maupun lahan sawah rawa pasang surut. Namun demikian keberadaan tikus sawah lebih dominan sebagai hama utama padi di lahan sawah irigasi. Tikus sawah tergolong binatang pemakan dari berbagai jenis tumbuhan dan hewan (omnivora), sehingga juga berperan sebagai hama pada tanaman hortikultura, perkebunan dan hama gudang. Tikus sawah juga diketahui sebagai vektor penyebab penyakit berbahaya pada manusia dan binatang ternak (Begon, 2003).

Pengendalian hama tikus pada tanaman padi sampai saat ini keberhasilannya masih belum konsisten, dan belum semua petani di berbagai propinsi di Indonesia memahami cara pengendalian tikus yang benar. Beberapa faktor penyebab kurang berhasilnya pengendalian tikus oleh petani antara lain: (1) monitoring terhadap keberadaan hama tikus oleh petani masih kurang, sehingga sering terjadi keterlambatan dalam mengantisipasi pengendalian, (2). pemahaman petani terhadap berbagai aspek sifat-sifat biologis hama tikus dan teknologi pengendaliannya masih lemah, (3) kegiatan pengendalian belum terorganisir dengan baik (masih sendiri-sendiri), dan tidak berkelanjutan, (4) ketersediaan sarana pengendalian masih terbatas dan (5) masih banyak petani yang mempunyai persepsi “mistis” terhadap tikus yang dapat menghambat pelaksanaan pengendalian.

Berdasarkan hasil penelitian yang komprehensif oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, telah direkomendasikan alternatif-alternatif pendekatan pengendalian tikus sawah yang telah terbukti efektif yaitu pengendalian hama tikus terpadu (PHTT) (Sudarmaji, 2006). Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) adalah pengendalian tikus yang didasarkan pada pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dengan cakupan sasaran pengendalian berskala luas (hamparan atau desa).

Pengendalian tikus pada dasarnya adalah upaya menekan tingkat populasi tikus menjadi serendah mungkin melalui berbagai metode dan teknologi pengendalian, sehingga secara ekonomi keberadaan tikus di lahan pertanian tidak merugikan secara nyata. Menjaga populasi tikus sawah agar selalu berada pada tingkat populasi yang rendah adalah penting. Oleh karena itu, perlu diupayakan langkah-langkah dan strategi pengendalian tikus sawah dengan pendekatan PHTT.

Berbagai komponen teknologi untuk pengendalian tikus sawah yang telah ada sampai saat ini sebenarnya cukup efektif apabila penerapannya telah sesuai dengan rekomendasinya. Ketepatan waktu pelaksanaan pengendalian, habitat sasaran pengendalian, dan pemilihan jenis teknologi yang dipakai, akan menentukan keberhasilan usaha pengendalian tikus sawah.

Serangga-serangga Yang Insting Membunuhnya Kuat

Kita mengenal serangga sebagai salah satu jenis makhluk hidup dengan populasi paling banyak di bumi ini. Dari sekian banyak serangga, memang ada yang tidak berbahaya, namun ada juga yang berbahaya. Nah, serangga – serangga dibawah ini mungkin memang didesain sebagai mesin pembunuh yang sempurna, bahkan mereka mungkin jauh lebih efisien dan lebih baik dibanding mahkluk lainnya.

Serangga – serangga dibawah ini sepertinya memang didesain sebagai mesin pembunuh yang sempurna. MEmang, sebagian tidak berbahaya bagi manusia, namun beberapa serangga dapat menimbulkan luka serius bagi manusia.

1. Lalat Perampok

Kita semua pasti tidak asing dengan lalat – lalat yang beterbangan di sekitar kita. Lalat memang lebih sering dikenal sebagai pembawa kuman penyakit, bahkan sejak di sekolah, lalat dianggap sebagai hewan yang merugikan manusia. Lalat yang kita sering kita lihat di rumah hanyalah satu dari sekian banyak spesies lalat yang pernah ditemukan.

Menurut ilmuwan, skitar 120.000 jenis lalat telah berhasil diidentifikasi dan beberapa diantaranya adalah predator mematikan yang sama sekali berbeda dengan lalt yang sering kita jumpai, dan lalat perampok adalah salah satunya.

Lalat ini memiliki penglihatan yang tajam, dapat terbang dengan kecepatan tinggi, dan menangkap mangsanya di udara. Ketika lalat ini mendapatkan mangsanya, ia akan menyuntikkan racun saraf dan cairan pencerna lewat mulutnya yang didesain sedemikian rupa, lalu ia akan menghisap cairan tubuh mangsanya hingga kering. Hampir semua jenis serangga kecil menrupakan mangsa dari lalt ini, bahkan jairng laba- laba yangkuat tidak mampu menahan laju dari lalat ini. MEskipun lalat ini memiliki racun, namun ia tidak berbahaya bagi manusia, hanya saja jika digigit oleh lalat ini, maka rasa sakit yang ditimbulkan akan luar biasa.

2. Kumbang Macan

Semua orang juga tahu jika Cheetah adalah hewan tercepat di bumi yang mampu berlari hingga 115 km/h. Dibandingkan dengan kumbang macan ini, tentu akan sangat jauh perbandingannya karena kumbang ini hanya mampu berlari dengan kecepatan maksimal 8 km/h. Tetapi tunggu dulu, jika ukuran kumbang ini sama dengan cheetah, maka si cheetah akan ngos- ngosan mengejar kumbang ini karena ia mampu berlari secepat 500km/h dan mungkin akan menggantikan posisi cheetah sebagai hewan tercepat di bumi, bahkan mobil supersport buatan massal pun akan sulit mengejarnya.

Itulah sekilas mengenai kemampuan kumbang ini. Saking cepatnya ia bergerak, sampai – sampai ia harus berhenti beberapa kali untuk menentukan lokasi mangsanya. Setelah ia menentukan lokasi mengsanya, ia berlari dengan cepat untuk menyambar mangsanya. Selain mengandalkan kecepatan sebagai senjata untuk membunuh mangsanya, kumbang ini juga memiliki rahang yang kuat. Karena kemampuannya yang luar biasa, kumbang ini digunakan manusia untuk mengendalikan hama seperti ulat, belalang, dan serangga lainnya.

3. Anai – anai / Undur – Undur

Anai – anai tentu bukan serangga yang asing lagi bagi kita. Hewan yang dipercaya sebagai obat penurun tekanan darah ini sebaiknya jangan dianggap remeh. Mungkin bagi kita anai – anai hanya serangga kecil yang unik karena cara bergeraknya yang unik, yaitu mundur, namun bagi serangga – serangga yang ukurannya lebih kecil seperti semut, anai – anai adalah predator ganas yang harus dihindari. Anai – anai sendiri merupakan tahap larva sebelum bermetamorfosis sempurna.

Biasanya anai – anai banyak ditemukan di tempat – tempat berpasir karena bentuk tubuh dan cara bergerak anai – anai sangat cocok untuk membuat jebakan di tempat yang berpasir. Anai – anai akan menunggu didasar jebakannya yang berbentuk corong tersebut, dan ketika ada seekor serangga yang sial karena terjatuh di jebakan tersebut, maka serangga tersebut akan sulit untuk meloloskan diri. Karena jebakannya terletak di daerah berpasir, maka mangsanya akan sulit untuk naik karena ia akan tergelincir lagi dan menjadi santapan anai – anai. Jika kalian penasaran, silahkan lihat di sarang anai – anai ini, jika ada semut yang kebetulan masuk ke jebakannya, maka kalian akan melihat bagaimana serangga ini membunuh mangsanya dengan sempurna.

4. Serangga Pembunuh

Serangga pembunuh merupakan jenis serangga yang memiliki kemampuan membunuh paling baik diantara serangga – serangga lainnya. Ada banyak jenisnya, namun sebagian besar tidak berbahaya bagi manusia. Oh ya, serangga – serangga ini memiliki spesialisasinya sendiri dalam membunuh mangsa. Ada spesies yang hanya membunuh laba- laba saja, ada juga yang hanya memburu semut dan lalat, hmm..seperti pembunuh profesional saja.

Serangga pembunuh dipersenjatai dengan bagian mulut yang berbentuk seperti jarum, yang berfungsi untuk menyuntikkan air liur yang mematikan. Air lur ini akan mencerna organ dalam mangsanya, dan seperti serangga lain yang tidak mampu memakan mangsa secara langsung, serangga ini menghisap cairan tubuh mangsanya. Tidak terbayang bukan bagaimana jika hewan ini berukuran raksasa.

5. Belalang Sembah

Sebagai salah satu serangga favorit saya, belalang sembah merupakan salah satu dari serangga pembunuh terbaik dengan dukungan fisiknya yang menunjangnya sebagai predator sejati. Meskipun spesiesnya juga banyak, namun belalang sembah atau mantis terkenal akan kaki depannya yang didesain khusus untuk menangkap mangsanya. Serangga ini menunggu mangsanya dengan mengandalkan kamuflase tubuhnya dan ketika mangsanya lewat, ia akan segera menyergap dengan kecepatan tinggi. Belalang sembah biasanya memangsa hewan – hewan kecil. Serangga ini juga dikenal memakan mangsanya secara langsung karena ia juga memiliki rahang yang kuat.

6. Lebah Macan

 

Lebah berukuran raksasa ini merupakan serangga yang hidup di wilayah Asia. Serangga yang merupakan musuh bebuyutan belalang sembah ini memiliki sengat yang cukup besar untuk membunuh seekor laba – laba besar seperti tarantula. Lebah ini memliki dosis racun yang lebih tinggi dari lebah manapun, sehingga dapat menimbulkan kematian bagi manusia jika disengat lebah ini dalam jumlah banyak.

Di Jepang sendiri, lebah ini sedikitnya membunuh 40 orang dalam setahun dan membuat masyarakat ketakutan. Lebah Macan sebenarnya hanya menggunakan sengatnya sebagai pertahanan diri, dan untuk berburu mangsa, mereka menggunakan rahangnya yang kuat untuk menbunuh mangsa yang labih kecil.

Ada sebuah cerita mengenai lebah ini, seorang peternak lebah madu dari Eropa mencoba untuk menggabungkan lebah Macan ini dengan jenis lebah madu dengan tujuan untuk mrnyilangkan kedua jenis lebah agar produksi madu lebih banyak karena ukuran lebah macan yang lebih besar dari lebah madu. Namun apa yang terjadi? Lebah macan yang hanya berjumlah beberapa tersebut menghancurkan semua koloni lebah madu hanya dalam waktu beberapa hari saja.

Tidak ada satu lebah madu pun yang tersisa, semuanya dibunuh oleh lebah macan, padahal koloni lebah madu Eropa tersebut berjumlah sekitar 30.000 ekor lebah. Mungkin itulah penggambaran bagaimana ganasnya lebah ini, namun lebah ini bukanlah jenis lebah terkuat karena lebah madu dari Jepang mempunyai trik dan cara khusus untuk membunuh lebah macan ini. Pertama mereka akan mengepung kawanan lebah macan ini,kemudian dengan mengandalkan jumlah mereka yang banyak, mereka membentuk formasi berbentuk bola padat dan mengepung kawanan lebah macan.

Lebah madu Jepang ini kemudian mulai mengepakkan sayap mereka lebih cepat sehingga menimbulkan panas didalam formasi bola tersebut hingga suhuny amencapai 47 derajat Celcius. Pada suhu ini, lebah macan yang terperangkap dalam formasi bola padat tadi tidak akan mempu bertahan dan akan mati secara perlahan. Peribahasa diatas langit masih ada langit sepertinya memang cocok untuk kisah ini.

sumber : http://www.infogue.com

Banyak Penyakit yang Disebabkan oleh Serangga

Banyak penyakit yang disebarkan serangga mengancam anak-anak dan semuanya memakan banyak korban, seperti demam berdarah, onchocerciasis, leishmaniasis, dan penyakit tidur, walaupun penyakit pada anak-anak yang disebarkan oleh serangga sejauh ini paling besar disebabkan oleh malaria. Saat ini, bahkan setelah puluhan tahun pengendalian dan kampanye pemberantasan penyakit tersebut, malaria masih endemik pada sekitar seperlima belahan dunia. Sekitar 2 miliar orang berisiko terkena malaria, sebanyak 200-300 juta anak-anak kecil mungkin terinfeksi, diantaranya hampir satu juta anak-anak meninggal setiap tahunnya. Afrika merupakan daerah yang paling parah terinfeksi malaria, kira-kira 90% dari total penyakit yang paling berat dialami di daerah ini disebabkan oleh malaria yang menjangkiti anakanak berusia di bawah umur 5 tahun. Dalam penyakit malaria, khususnya, memiliki kecenderungan untuk selalu meningkat.

Beberapa penyakit yang disebarkan oleh serangga ini merupakan hasil dari perjalanan transmisi yang kompleks dan sering melibatkan sejumlah pembawa (carrier) dan pejamu yang berbeda. Prevalensi berbagai macam penyakit ini bervariasi sangat luas antara satu belahan dunia ke belahan lainnya, jadi indikator spesifik, yang merefleksikan beberapa penyakit yang menjadi perhatian dan jalan tansmisi penyakit tersebut, yang harus dijelaskan. Namun, dalam konteks ini, terfokus pada indikator umum yang utama dan digunakan secara luas. Indikator-indikator ini dapat (dan seharusnya) diadaptasikan dan dikembangkan secara lokal sesuai kebutuhan. Indikator efek kesehatan utama tersebut yaitu:

• Angka mortalitas yang disebabkan oleh penyakit yang disebarkan melalui serangga yang menyerang anak-anak berusia diantara 0-4 tahun
• Prevalensi penyakit yang disebarkan melalui serangga yang menjangkiti anak-anak berusia 0-14 tahun

 

 

 

 

 

 

Meskipun banyak serangga yang berbeda terlibat di dalam penyebaran penyakit, nyamuk merupakan serangga utama pembawa penyakit. Meskipuln kenyataannya, serangga itu sendiri merupakan suatu agen yang dikambing-hitamkan atas kebodohan manusia. Sementara itu, distribusi pembawa penyakit ini jelas memengaruhi area distribusi penyakit yang luas dan intensitas penyakit tersebut.

Penyebaran dan distribusi pembawa penyakit terutama dipengaruhi oleh ketersediaan pejamu dan habitat yang berasal dari tindakan manusia itu sendiri. Perubahan penggunaan lahan, irigasi, saluran air/drainase, pembangunan perairan, pembangunan jalan raya, dan penebangan hutan telah membuat habitat baru bagi nyamuk dan vektor serangga lainnya di beberapa daerah, dan telah mendukung penyebaran penyakit yang disebarkan melalui serangga.

Tidak adanya keberlanjutan program pengendalian telah memungkinkan penyakit untuk menghuni kembali daerah tempat mereka yang sebelumnya telah dibasmi. Perumahan yang buruk, manajemen sampah yang tidak sesuai standar, penyimpanan air rumah tangga, dan sanitasi serta kebersihan yang tidak efektif berkontribusi terhadap risiko infeksi. Kelaparan, perang, penindasan, dan pembangunan juga telah berperan sebagai tekanan bagi perpindahan, penggerakkan, atau penarik populasi dari daerah non-endemik ke daerah endemik.

Pada jangka waku panjang, perubahan iklim dapat menambah permasalahan ini, dengan mendorong perpindahan yang lebih jauh lagi pada vektor serangga dan grasi manusia dalam jumlah besar. Oleh karena itu, prediksi kesehatan untuk anak-anak yang hidup di masa depan maupun yang hidup sekarang akan tetap suram.

Pajanan pada penyakit ini sering terjadi karena anak-anak yang digigit oleh serangga pembawa penyakit yang bersangkutan (meskipun, pada beberapa kasus, penyebaran maternal juga memungkinkan). Kemungkinan indikator pajanan yang paling berguna yaitu:

• Jumlah anak-anak berusia 0-14 tahun yang tinggal di area endemik untuk penyakit yang disebarkan oleh serangga, yang merupakan suatu ukuran risiko inteksi secara umum. Namun, pada beberapa kasus, indikator yang lebih spesifikdapat dikembangkan, berdasarkan contoh pada pengetahuan intensitas vektor misalnya jumlah serangga yang berkembang biak) atau angka inokulasi entomologic.

Distribusi penyakit yang disebarkan oleh serangga, secara umum, bergantung kepada ketersediaan dan area habitat yang sesuai. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, hal ini dipengaruhi secara luas oleh praktik penggunaan lahan dan pengembangannya.

Ketersediaan mikro habitat di rumah tangga tempat serangga dapat berkembang biak, makan, dan tinggal merupakan hal yang penting juga. Dan, yang lebih jauh lagi, faktor-faktor seperti kondisi perumahan, kepadatan penduduk, pertumbuhan penduduk, dan perubahan iklim juga memiliki suatu efek terhadap penyakit ini. Indikator yang sangat berguna lainnya, antara lain:
• Area keseluruhan habitat vektor serangga, termasuk area seluruh tempat perkembangbiakan yang disukai (bergantung pada serangga yang diperhatikan);

• Jumlah anak berusia 0-14 tahun yang tinggal di perumahan dengan kondisi yang sesuai untuk penyebaran penyakit oleh serangga termasuk semua mikro habitat yang bersangkutan, seperti fasilitas penyimpanan air yang terbuka, tempat limbah yang terbuka, kakus atau peternakan yang terbuka, sebaik apakah tindakan preventif yang dilakukan seperti penggunaan kelambu.

• Tingkat pertumbuhan populasi di daerah endemik penyakit-penyakit yang disebarkan melalui serangga, yang telah memungkinkan suatu ukuran penekanan populasi di daerah endemik penyakit.

Tiga pendekatan utama yang dapat dibedakan dalam pengendalian penyakit yang disebarkan melalui serangga. Yang pertama adalah melalui pengendalian habitat, yang bertujuan mengurangi kesempat an untuk berkembang Nak dan menyebar. Yang kedua adalah melalui penggunaan pestisida atau metode lain untuk melenyapkan serangga itu (meskipun hal ini dapat mengakibatkan risiko kesehatan pada manusia). Dan cara yang terakhir adalah melalui vaksinasi pada populasi yang berisiko.

Ketiganya ini, dapat dilakukan dengan derajat yang bervariasi, yang mungkin diperlukan dan efektif. Namun, strategi yang paling baik, boleh jadi dengan tindakan terintegrasi yang mengombinasikan beberapa elemen dad ketiga hal diatas. Indikator tindakan yang paling sesuai adalah sebagai berikut:
• Jumlah anak berusia antara 0-14 tahun yang berisiko dan diberi perlindungan efektif, pengendallanvektor dan sistem manajemen yang terintegrasi, yang merupakan suatu ukuran program pengendalian terintegrasi yang sedang dilaksanakan saat ini.

Namun, jika mungkinkan menggunakan indikator lainnya yang lebih spesifik, sebagai contoh:

• Jumlah anak berusia 0-74 tahun yang secara efektif disuntik untuk melawan penyakit yang disebarkan oleh serangga.
• Angka perubahan tiap dasawarsa pada daerah habitat vektor serangga.
• Persentase rumah tangga terinfeksi vektor serangga yang telah diobati, termasuk pengobatan insektisida danjugatindakan untuk menghilangkan mikrohabitat di rumah tangga dan tindakan penindungan diri seperti penggunaan kelambu.
• Daerah yang mendapat pengendalian vektor serangga atau program pemberantasan.

Sumber !